<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5435557265716702785</id><updated>2012-02-16T15:11:20.347+07:00</updated><category term='Berita Daerah'/><title type='text'>Dakwah Daerah Terpencil</title><subtitle type='html'>Informasi dan Aktivitas Para Da`i MTDK Muhammadiyah</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>MTDK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10130481584788844596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5435557265716702785.post-5231799377955079391</id><published>2010-10-09T08:32:00.003+07:00</published><updated>2010-10-09T08:35:57.751+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Daerah'/><title type='text'>Mempertahankan Islam di Malaka Barat, NTT</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/TK_G2Y8TwdI/AAAAAAAAACY/yEsV_ytflug/s1600/anak2+mencari+kayu+utk+persiapan+masak.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/TK_G2Y8TwdI/AAAAAAAAACY/yEsV_ytflug/s1600/anak2+mencari+kayu+utk+persiapan+masak.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan deras disertai angin kencang di Kabupaten Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, dan sebagian Kabupaten Belu memicu luapan air Sungai Benanain yang memporak-porandakan Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luapan air Sungai Benanain, yang berketinggian 1,5 meter, sejak Sabtu (31/7) hingga Ahad (1/8) telah membuat tanggul penahan banjir jebol dan merendam 8.000 hektar sawah dan 12.000 hektar ladang penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Mei hingga Juli 2010, wilayah Malaka Barat telah enam kali dilanda banjir bercampur lumpur. Sebanyak 6 desa yang terus terendam banjir, di antaranya adalah Desa Sikun, Umato-os, Umalor, Lasaen, dan Besikama. Ketinggian banjir bervariasi dari setinggi 20 centimeter hingga dua meter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa warga di Desa Sikun menuturkan, mereka tidak mampu bertahan hidup dengan terus menerus menerima banjir kiriman. Apalagi sejauh ini belum ada pihak mana pun yang memberi bantuan, termasuk Pemerintah Kabupaten Belu.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, yaitu pada bulan Maret di tahun yang sama, telah terjadi kekeringan yang mengakibatkan jagung serta tanaman padi rusak. Sebagian warga terpaksa mengonsumsi makanan seadanya. Bahkan di antara mereka ada yang mengonsumsi putak yang merupakan makanan babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Adalah Husein (38), lelaki kelahiran Nusa Tenggara Timur yang telah cukup lama menetap di Jakarta untuk menimba ilmu, memilih untuk mengamalkan ilmunya di daerah dengan kondisi yang demikian memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husein sebagai da’i khusus Muhammadiyah ditugaskan di desa minoritas muslim di Masjid Al-Falah Kletek 75 km dari pusat kota. Husein ditugaskan secara resmi oleh MTDK PP Muhammadiyah sejak tanggal 1 Juni 2010 untuk membina jamaah dan generasi muda Islam di daerah itu agar dapat maju dan berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal penempatan, Husein tinggal di satu desa dengan segala keterbatasan. Tidak ada listrik yang mengaliri desa tempat tinggalnya. Setiap malam, cahaya redup lampu tempel yang selalu menemani. Orang-orang yang akan menghubunginya juga akan kesulitan. Sinyal telepon seluler di sana sangat lemah. Harus naik ke bukit lebih dulu untuk dapat berkomunikasi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, Husein harus ke kampung lain yang jaraknya sekitar tiga kilometer untuk merecharge baterai HP-nya. Jangan berpikir bahwa listrik di kampung lainnya itu juga sudah stabil. Sebab, listrik yang dimanfaatkan Husein berasal dari tenaga surya yang pemakaiannya cukup terbatas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperoleh air pun cukup sulit. Kalau musim hujan air ada di mana-mana, tapi kalau musim kemarau air sulit di dapat. Perlu berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk mencari air. Jalan meliuk masuk ke lembah-lembah baru bisa dapat air. Padahal, menurut Husein ia tinggal tak jauh dari Sungai Benanain. Tempat tinggalnya sedikit naik ke gunung untuk menghindari banjir dari luapan sungai yang kadang datang tiba-tiba pada tengah malam. Biasanya antara jam 12 malam hingga jam 1 malam banjir sering datang tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kondisi alamnya yang cukup berat, ada tantangan lain yang tak kalah berat. Husein merupakan satu-satunya penganut Islam di desa itu. Karena itu, bukanlah hal yang mudah bagi Husein sebagai orang baru untuk dapat diterima di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husein mengungkapkan bahwa di daerah itu, selain pembinaan di Masjid Al-Falah ia juga menyempatkan mengajar di tiga sekolah. Di tiga sekolah yang ia masuki itu, memang tidak ada Kristen Protestan, Islam, Hindu, Budha. Semua Katolik. Dari kegiatannya di sekolah inilah akhirnya Husein bertemu dengan tokoh gereja, John Banunae. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia (John Banunae) mengatakan bahwa Islam, orang ini (Husein-red) datang untuk melakukan Islamisasi di sini,” tutur Husein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, kehadiran Husein sangat tidak disenangi oleh beberapa tokoh masyarakat setempat. Salah satunya John Banunae, tokoh gereja yang cukup keras di sana. Ia juga sempat akan diusir karena tokoh masyarakat itu tidak menginginkan adanya Islamisasi di daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ketegangan itu tidak berlangsung lama. Husein mengajak orang-orang yang menginginkannya keluar dari daerah itu untuk berdialog dengan ditengahi oleh tokoh adat setempat yang bernama Ambe Matakane. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sebagai awalan Husein membentuk pertemuan antara perwakilan Katolik dengan Islam. Tapi pada saat itu tidak mengundang banyak orang, hanya cukup John Banunae dan Ambe Matakane yang dianggap sebagai tokoh yang bisa memutuskan antara Husein dapat tinggal di situ atau harus keluar. Ambe Matakane adalah tokoh yang dapat menetralisir antara tiga desa, tempat Husein tinggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dialog itu, Ambe Matakane justru memaparkan bahwa dahulu memang Islam telah sempat hadir di Malaka Barat. Ambe Matakane mengatakan bahwa Islam pertama kali masuk di NTT melalui Malaka Timur tapi tidak tembus, akhirnya masuk lewat Malaka Barat. Setelah itu masuk lewat Malaka Tengah, akhirnya berlanjut ke Kupang dan ke Flores. Tapi karena tidak ada da’i yang membina umat di situ akhirnya di situ masuk ke Katolik semua di kemudian hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dialog itu, akhirnya tidak terjadi pengusiran. Husein justru mendapat tempat tinggal baru di Desa Katarak yang ia tempati sekarang dari tokoh adat setempat. Sebelumnya, tempat tinggalnya lebih dekat ke pantai dan di dekat sungai yang suka banjir. Husein juga diakui sebagai orang asli NTT dan punya pemahaman baru terhadap sejarah atau kaitan antara orang Belu dengan Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi berhubungan dengan orang Belu ini, tidak ada batas. Batas antara saya dengan orang Belu ini tidak ada,” kata Husein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, Husein mengatakan bahwa Ambe Matakane mempersilahkan juga kalau ingin membangun sekolah Islam atau rumah ibadah Islam. Hal itu tidak apa-apa sebab Islam pertama masuk lewat daerah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun diijinkan untuk membangun sekolah Islam dan Masjid, tapi karena Husein masih baru di sana, ia perlu mempersiapkan teman-teman yang muslim terlebih dahulu agar bisa berkiprah dan membantunya mengembangkan daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini, Husein mengungkapkan bahwa ada lima orang yang mau masuk Islam, menjadi mualaf. Kelima orang itu pun diterima dan disyahadatkan bersama komunitas muslim di sana. Dua orang yang menjadi mualaf dikirim ke pulau Jawa lewat Darunnajah untuk menuntut ilmu. Sementara yang tiga lainnya tetap tinggal di Belu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafkah yang diterima Husein dari MTDK yang pertama, ia gunakan untuk mensyahadatkan kelima orang itu. Ia membelikan mukena, kain, sajadah, peci, dan Al-Quran. Selain itu, ia juga memberikan nafkah 35 ribu rupiah per orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tinggal di daerah hutan dan jaraknya yang jauh-jauh satu dengan yang lainnya, Husein hanya bertemu mereka seminggu sekali atau bahkan hanya sebulan dua kali. Ke depan, Husein berencana untuk bisa membina mereka dengan melakukan dakwah dari rumah ke rumah, dan berbagi cerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, Husein berharap akan ada minimal satu da’i pendamping baginya. Menurutnya, kalau ia keluar di lokasi lain yang sangat jauh-jauh itu, mungkin banyak umat lainnya yang tidak terbina dengan baik. Dalam pembinaan ilmu-ilmu agama pun masih sangat kurang. Sholat saja mereka masih susah, dan yang sudah Islam tanpa pembinaan yang baik banyak yang masih ragu-ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu belakangan ini, Husein mengungkapkan pula bahwa kadang-kadang banyak yang mau masuk Islam. Tapi ia melihat kondisi dirinya masih belum kuat untuk mensyahadatkan mereka. Karena ia harus berhadapan dengan kelompok lain yang cukup keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok lain yang cukup keras terhadapnya biasanya masyarakat yang belum tahu Islam. Sementara masyarakat yang sudah tahu seperti ketua adat Ambe Matakane itu sangat membebaskan Husein. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali dialog, Husein mengungkapkan bahwa terakhir ini mereka katakan bahwa kita ini pelayan Tuhan, suatu saat kita akan kembali kepada Tuhan, jadi tugas kita hanya melayani umat. Kita serahkan kepada umat mengenai kepercayaan yang mereka pilih. Islamkah atau Katolikkah, Hindukah atau Protestan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dialog itu disepakati bahwa Husein pun juga tidak akan memaksakan mereka untuk masuk Islam. Namun, apabila suatu saat ketika mereka memilih Islam, Husein meminta agar jangan paksakan juga mereka untuk kembali ke Katolik atau ke Kristen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita saling membina, membantu jamaah jangan sampai keluar masuk Kristen ke Islam terus ke Kristen lagi dan ke Islam lagi, tidak boleh ada itu... Dalam berdakwah juga tidak boleh saling memaksa, kita sepakat saling menghormati,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, dalam perkara-perkara yang bukan ibadah setiap kali ada acara Husein mengundang mereka, begitupun sebaliknya. Jika mereka ada acara mereka juga mengundang kelompok Islam. Namun, kegiatan darinya masih minim dari kegiatan untuk mengangkat taraf hidup masyarakat yang berada di perbatasan Indonesia-Timor Timur ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Firmansyah]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5435557265716702785-5231799377955079391?l=dakwah-terpencil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/feeds/5231799377955079391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/10/mempertahankan-islam-di-malaka-barat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/5231799377955079391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/5231799377955079391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/10/mempertahankan-islam-di-malaka-barat.html' title='&lt;center&gt;Mempertahankan Islam di Malaka Barat, NTT&lt;/center&gt;'/><author><name>MTDK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10130481584788844596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/TK_G2Y8TwdI/AAAAAAAAACY/yEsV_ytflug/s72-c/anak2+mencari+kayu+utk+persiapan+masak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5435557265716702785.post-6049811176802099607</id><published>2010-10-08T23:52:00.001+07:00</published><updated>2010-10-09T08:42:22.298+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Daerah'/><title type='text'>SANG PENCERAH DI DESA JERUKLEGI KAB.CILACAP</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/TK_Icy4JocI/AAAAAAAAACk/dhLGPbN3Fcw/s1600/Alimursyidin_Cilacap.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/TK_Icy4JocI/AAAAAAAAACk/dhLGPbN3Fcw/s320/Alimursyidin_Cilacap.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tantangan Dakwah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Cilacap merupakan daerah kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Jawa Tengah bagian selatan berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat dengan luas wilayah sekitar 2.142,57 Km2 atau lebih kurang 225.360,84 Ha diatas ketinggian 0 – 1.146 meter diatas permukaan Laut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didaerah industri ini Dakwah Muhammadiyah masih terbilang perlu mendapat perhatian yang serius. Pemahaman masyarakat masih sangat kental dengan tahayul, bid’ah dan khurafat, membuat Ustad Ali Mursiddin, 73 tahun terpanggil untuk mendakwahi masyarakat setempat. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1963, ustad yang telah memiliki 11 orang anak dan 20 orang cucu, mulai menggarap lahan dakwah di desa Jambusari dan Desa Jeruklegi Wetan, Kecamatan Jeruk Legi, Kabupaten Cilacap. Di desa tersebut, layaknya Sang Pencerah, Da’i yang satu ini sekalipun usianya semakin tua, tapi semangatnya tetap membara mendatangi satu persatu rumah warga untuk mengajak berislam sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Satu persatu tantangan dakwah pun dihadapinya. Mulai dari pemahaman yang masih tradisional dari warga setempat sampai pada gencarnya gerakan Kristenisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bencana Aqidah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritenisasi di Indonesia bukan hanya issu belaka, melainkan fakta. Sasaran mereka adalah daerah-daerah yang terisolir dan rawan bencana. Sekalipun menggunakan cara yang tidak asing lagi, seperti bagi-bagi sembako dan injil kepada warga, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Yayasan Bina Sejahtera (YSBS). Namun mereka tetap saja PD alias ”percaya diri”, bahwa cara yang mereka lakukan itu adalah cara yang paling efektif untuk mengkristenkan warga setempat. Namun yang menarik, sepak terjang para missionaris ini mulai menurun semenjak Ustad Ali, berhasil mengislamkan salah satu penginjil di desa itu, yakni Sanya Sumedi. Melalui diskusi yang panjang dengan ustad Ali, akhirnya Sumedi ’angkat tangan’ dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan yang  tersisa saat ini hanyalah Lembaga pendidikan seperti SMP dan SMA Yos Sudarso yang sengaja didirikan dengan megah oleh YSBS didesa itu hanya untuk menarik perhatian warga agar menyekolahkan anaknya disekolah tersebut. Dan ironisnya masih banyak warga yang lebih memilih anaknya untuk sekolah di SMP dan SMA Yos Sudarso daripada di SMP dan SMA Muhammadiyah di Cilacap. Hal ini bukan dikarenakan sekolah Muhammadiyah didaerah tersebut tidak mampu bersaing dengan sekolah yang didirikan oleh YSBS, namun kebencian terhadap gerakan dakwah Muhammadiyahlah yang membuat warga enggan menyekolahkan anaknya disekolah Muhammadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Masdar, salah satu guru di SMP Muhammadiyah 1 Cilacap pun mengutarakan, bahwa warga disini terutama yang berada didesa-desa pedalaman seringkali diberikan informasi yang keliru tentang Muhammadiyah oleh para sesepuh Diantaranya kata-kata yang seringkali muncul di masyarakat adalah ”panjenengan iku ojo melu-melu karo Muhammadiyah. mergane neng Muhammadiyah mati, ora di adzani, ora di tahlili, lan ora di slametin”. (Kamu itu jangan ikut-ikut dengan Muhammadiyah, karena di Muhammadiyah kalau meninggal tidak di azankan, tidak tahlilan dan tidak selametan). Akhirnya dengan latar belakang pendidikan yang rendah warga pun langsung mempercayai perkataan-perkataan tersebut. Inilah yang menjadi tantangan berat Ustad Ali Mursiddin untuk menjadi Sang Pencerah didaerah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacian dan makian itu hal yang biasa bagi ustad Ali Mursiddin. Di daerah eks. Basis PKI ini, ustad Ali cukup berhati-hati pula dalam berdakwah. Dan Alhamdulillah dakwah ustad Ali, sekalipun belum maksimal, namun bisa katakan cukup berhasil, dan pengajian binaannya pun kian hari, kian bertambah. Masyarakat satu persatu mulai menerima pengajarannya. Jam terbangnya pun kian padat, bahkan tidak hanya di desa jeruklegi wetan saja lahan garapannya, melainkan sampai ke daerah Banyumas dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bencana Banjir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bencana aqidah, Kabupaten Cilacap memang tidak pernah luput juga dari bencana Banjir, sebagaimana yang terjadi beberapa hari yang lalu tepatnya pada hari senin (20/9) dini hari, pukul. 00.30 WIB, air  sungai  Jambu kembali meluap dan membanjiri Beberapa kecamatan antara lain, Jeruklegi, Kawunganten, Bantarsari,  Gandrungmangu dan Kecamatan Kampunglaut.desa yang ada di Kab, Cilacap. Diantaranya  Desa Rawajaya, Binangun, Kawunganten, Bringkeng dan Jeruklegi wetan. Air yang mencapai ketinggian ± 2 m tersebut, merusak dan merobohkan beberapa rumah warga, diantara 32 KK warga Muhammadiyah setempat, dan salah satunya adalah ustad Ali Mursiddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat banjir tersebut, warga Kawunganten yang mengungsi mencapai 673 KK, yang terdiri dari 115 KK dari desa Kawunganten Lor, 147 KK dari desa Sarwadadi, 401 KK dari desa Kalijeruk dan 10 KK dari desa Bojong.  Hingga laporan ini dikeluarkan pada 20 September pukul 17.00 WIB, kerugian belum dapat diperhitungkan.  Tetapi bencana banjir telah mengakibatkan sejumlah kerusakan diantaranya,  rumah rusak berat 1 unit, rumah rusak ringan 6 unit, rumah teredam 2.079 unit dan tempat ibadah 1 unit.  Sedang prasarana lain yang mengalami kerusakan yakni jembatan 2 buah, talud di dua lokasi, serta 45 hektar sawah terendam dan 3 hektar kolam ikan terendam banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di kecamatan Jeruklegi menelan satu korban jiwa, yang ditemukan didesa Jeruklegi kulon dalam genangan lumpur.  Sedang kerusakan yang ditimbulkan akibat banjir rumah roboh sejumah 7 unit, rumah rusak berat 11 unit, rumah rusak ringan 2 unit dan warga yang diungsikan sejumlah 10 KK.  Banjir juga mengakibatkan jalur transportasi Jeruklegi – Kawunganten lumpuh total selam 6 jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan sembako dan pakaian baik dari PEMDA setempat dan warga Muhammadiyah di Cilacap memang telah sampai ke tangan mereka. Namun bantuan fisik (materil) berupa bahan-bahan bangunan untuk mendirikan kembali rumah mereka yang ’ambruk’ dibawa banjir sampai saat ini masih menunggu uluran tangan dari para dermawan. [laporan: Rio E. Turipno]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5435557265716702785-6049811176802099607?l=dakwah-terpencil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/feeds/6049811176802099607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/10/sang-pencerah-di-desa-jeruklegi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/6049811176802099607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/6049811176802099607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/10/sang-pencerah-di-desa-jeruklegi.html' title='&lt;center&gt;SANG PENCERAH DI DESA JERUKLEGI KAB.CILACAP&lt;/center&gt;'/><author><name>MTDK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10130481584788844596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/TK_Icy4JocI/AAAAAAAAACk/dhLGPbN3Fcw/s72-c/Alimursyidin_Cilacap.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5435557265716702785.post-1616281937377796261</id><published>2010-08-21T14:16:00.000+07:00</published><updated>2010-08-21T14:16:03.573+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Daerah'/><title type='text'>Melawan Animisme di Daerah Terpencil NTT </title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/TG9890cCwcI/AAAAAAAAACI/vxQuYyJpGHk/s1600/aksicepattanggap-NTT.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/TG9890cCwcI/AAAAAAAAACI/vxQuYyJpGHk/s320/aksicepattanggap-NTT.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lelaki setengah baya terlihat duduk sambil serius mendengarkan paparan seorang ustadz. Pandanganya fokus ke depan. Khidmat. Setiap arahan yang disampaikan ustadz tersebut, didengarkannya penuh seksama. Seolah, tak ada satu pun kata yang lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tidak lain, Abdul Qadir Lenama. Qadir demikian akrab disapa, di siang awal Juli lalu sedang mengikuti acara “Temu Dai Terpencil Tingkat Nasional” yang digagas Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PP. Muhammadiyah di masjid Al-Ikhlas kota Gudeg, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MTDK  menyelenggarakan pertemuan dengan tema “Temu Da’i Terpencil Tingkat Nasional” di sela-sela kegiatan Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta.  Karena sebagian da’i terpencil ini ada yang merangkap sebagai peserta Muktamar Muhammadiyah dan sebagian lagi sebagai penggembira, maka, acara ini sengaja diadakan mengambil momentum Muktamar Muhammadiyah agar bisa  menghemat biaya.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perjalanan Dakwah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qadir berperawakan sedang dengan kulit berwarna hitam. Sorot matannya tajam. Tapi, setiap kata yang diutarakannya begitu dalam. Ada selaksa hikmah yang terkandung di dalamnya. Qadir adalah dai asal kec. Amanuban Timur, Kab. Timur Tengah Selatan, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketertarikan Qadir menjadi dai timbul sejak kecil, 8 tahun. Waktu itu, sekitar 1967, Qadir kerap mendapati penduduk di desanya melakukan kegiatan animisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, kegiatan itu wajar. Pasalnya, mereka memang bukan Islam. Di desanya itu, dari jumlah penduduk sekitar 15 ribu jiwa, yang muslim hanya kira-kira 3-4 ribu orang. Selebihnya, kalau nggak Kristen, pasti animisme.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desanya, ada sejumlah gunung yang dikeramatkan dan dijadikan sebagai tempat sesembahan. Di antaranya, gunung Tumbes dan gunung Fatukopa. Gunung Fatukopa bentuknya seperti perahu. Biasanya, para penduduk setempat, jika datang musim panen, hasilnya akan disesajikan ke dua gunung tersebut. Kata Qadir,  hal itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang mereka panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya, para penduduk membuat tempat khusus di gunung tersebut. Biasanya dengan menggunakan batu besar yang dianggap keramat. Batu itu lalu dijadikan tempat menaruh sesaji. Melihat hal itu, sebagai orang muslim, meski waktu itu masih terbilang kecil, tapi telah mengusik hati kecil Qadir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa, gunung dijadikan tuhan,” ujar Qadir tak percaya. Sejak itulah, Qadir bercita-cita mengeluarkan mereka dari kubangan animisme itu dan mengajak mereka menuju jalan yang benar, Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1983, usai belajar agama di salah satu pondok pesantren, Qadir memulai debut dakwahnya. Langkah pertama yang Qadir lakukan adalah mendekati kepala adat atau suku. “Maklum, di daerah yang cenderung primitif, kelapa suku berpengaruh besar bagi kaumnya” kata Qadir. Mendekat kelapa suku pun ada caranya. Tidak sembarang mendekati. Sebab, jika salah, alih-alih dapat simpati, justru caci yang didapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pelan dan lemah lembut Qadir pun mendekati mereka. Kedekatan itu pun seolah sudah tidak ada batas lagi. Ibarat seperti saudara kandung. Tak ada sekat. Nah, setelah itu, baru Qadir mulai melancarkan dakwahnya. Qadir bilang bahwa kegiatan menyembah batu dengan memberi sesaji adalah bentuk peribadatan konservatif yang tidak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kegiatan itu, hanya melanggengkan kebodohan,” terang Qadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya, apa yang disampaikan Qadir cukup jitu. Mereka jadi berfikir secara rasional. Lambat laut, mereka mulai mempertanyakan jalan lain menuju keperibatana yang lebih masuk akan dan elegan. Qadir pun kemudian menjelaskan apa itu Islam. Dan, ternyata, mereka banyak yang tertarik. Hingga segelintir dari mereka lambat laun mau masuk Islam. Selama sekitar 3 tahun setelah itu, angka mualaf naik drastis. Ada sekitar 500 orang yang telah masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun,  perjuangan Qadir mengajak mereka ke agama Islam harus berlomba dengan kristenisasi. Apalagi, kegiatan itu dibungkus dengan kedok kegiatan sosial. Seperti bagi-bagi sembako, duit dan lain sebagainya. Mereka adalah adalah orang-orang LSM internasional yang sengaja melakukan demikian. Qadir pun tak kalah semangat. Dia lebih kencang lagi dalam berdakwah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memuluskan dakwahnya itu, Qadir menggunakan tehnik lain. Qadir memberangkatkan anak-anak penduduk ke Jawa untuk di sekolahkan di pesantren di Jawa yang dikenal banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, sepulang dari pesantren di Jawa, mereka nanti yang akan mendakwahi orangtua dan keluarga mereka masing-masing,” ujar Qadir.&lt;br /&gt;Qadir pun menjali kerjasama dengan beberapa pesantren di pulau Jawa yang menampung anak-anak NTT tanpa dipungut biaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahunnya hampir ada sekitar 5 sampai 10 anak yang dimasukkan pondok pesantren. Hasilnya pun jitu. Sepulang dari pesantren mereka mendakwahi keluarga mereka. Dari cara itu, dapat mengerek angka mualaf.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karen rajin berdakwah, sampai-sampai Qadir pun mendapat jodoh putri dari salah satu kepala suku. Awalnya, Qadir tertarik pada Rince Mano, putri dari kepala suku Mano yang bernama Yakobus. Karena waktu itu masih Kristen, maka oleh Qadir sang putri kepala suku itu diajak masuk Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, Rince pun mau bahkan diikuti juga ayahnya. Nama Rince kemudian diganti jado Rahmawati sedang ayahnya Yahya. Setelah setahun masuk Islam, Qadir pun baru menikahi Rahmawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menanggalkan Bendera&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, dalam berdakwah, Qadir tidak membawa embel-embel payung organisasi. Meski menurut Qadir yang juga termasuk anggota dari salah satu ormas terbesar di Indonesia, tapi dalam berdakwah dia hanya mengaku Islam saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pasal? Ternyata, menurutnya, jika membawa embel-embel organisasi kurang efektif. Mudah diadu domba oleh misionaris. &lt;br /&gt;“Nanti dibilang Islam banyak aliran,” ujarnya. Jadi, Qadir pun hanya mengajarkan Islam tanpa harus membawa organisasinya. Di derahnya, Qadir sebenarnya tidak sendirian dalam berdakwah. Ada banyak dai dari sejumlah organisasi Islam lainnya. Tapi, seperti Qadir, para dai tersebut sepakat untuk tidak mengatasnamakan bendera organisasi mereka. Mereka hanya mengaku Islam saja. Sebab, menurutnya, pengkotak-kotakan organisasi bisa jadi makanan empuk para misionaris untuk memecah belah umat Islam. Mengakhiri permbincangan dengan hidayatullah.com, Qadir memohon doa kepada umat Islam agar setiap langkahnya dimudahkan Allah, Amien. [sumber: hidayatullah.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5435557265716702785-1616281937377796261?l=dakwah-terpencil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/feeds/1616281937377796261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/08/melawan-animisme-di-daerah-terpencil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/1616281937377796261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/1616281937377796261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/08/melawan-animisme-di-daerah-terpencil.html' title='&lt;center&gt;Melawan Animisme di Daerah Terpencil NTT &lt;/center&gt;'/><author><name>MTDK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10130481584788844596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/TG9890cCwcI/AAAAAAAAACI/vxQuYyJpGHk/s72-c/aksicepattanggap-NTT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5435557265716702785.post-8069225784486625270</id><published>2010-06-30T10:12:00.002+07:00</published><updated>2010-06-30T10:13:57.876+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Daerah'/><title type='text'>Dakwah Pemberdayaan Masyarakat di Donggo dan Soromandi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/TCq10tQtrcI/AAAAAAAAAB4/WEKIPt45Ifo/s1600/soromandi5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/TCq10tQtrcI/AAAAAAAAAB4/WEKIPt45Ifo/s320/soromandi5.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada tanggal 10 Mei 2010, Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PP Muhammadiyah Jakarta menerima laporan tiga bulanan (tri wulan) dari Muhammad Guntur mengenai kegiatan dakwah da’i MTDK bulan Februari-April 2010. Guntur merupakan salah seorang da’i khusus di daerah terpencil Kabupaten Bima yang rajin mengirimkan laporan kegiatan dakwahnya. Bahkan, ia sempat mengirimkan laporan walaupun hanya dengan tulisan tangan. Di dalam laporan itu ia mengatakan mesin ketik yang dimilikinya tidak dapat digunakan. Kendala teknologi ternyata bukan hambatan baginya untuk memberikan laporan-laporan yang memang sangat dibutuhkan oleh MTDK bagi pengembangan dakwah &amp;nbsp;di daerah terpencil pada masa mendatang. Sehingga syiar Islam dapat sampai ke pelosok-pelosok negeri.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Muhammad Guntur, yang merupakan sarjana pendidikan ini mulai bertugas sebagai da’i khusus MTDK sejak September 2005. Ia ditugaskan di Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Kecamatan Donggo kini telah mengalami pemekaran wilayah menjadi dua kecamatan, yaitu Kecamatan Donggo dan Soromandi. Setelah pemekaran wilayah, Guntur akhirnya ditugaskan di dua kecamatan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kecamatan Donggo memiliki luas wilayah sekitar 13.041 Ha atau 130.410 km2. Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 7.741 jiwa dan perempuan 7.599 jiwa. Jumlah total penduduk Kecamatan Donggo yaitu 15.340 jiwa. Dengan demikian, kepadatan penduduknya adalah 118 jiwa/km2. Sedangkan Kecamatan Soromandi memiliki luas wilayah sekitar 33.508 Ha atau 335.080 km2. Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 4.300 jiwa dan perempuan 4.030 jiwa. Jumlah total penduduknya yaitu 8.330 jiwa dengan kepadatan penduduk 92 jiwa/km2.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black;"&gt;Di Kecamatan Donggo terdapat 7 Desa, yaitu Desa Doridungga, Desa O’O, Desa Kala, Desa Mpili, Desa Mbawa I dan Mbawa II, Desa Rora, dan Desa Nggeru Kopa. Di Kecamatan Soromandi terdapat 6 Desa, yaitu Desa Bajo, Desa Punti, Desa Wadukopa, Desa Kananta (Sowa), Desa Sai, dan Desa Sampungu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black;"&gt;Kecamatan Donggo merupakan daerah kecamatan tertinggi di Bima dengan ketinggian 500 meter dari permukaan laut dan memiliki tingkat kemiringan yang cukup tinggi di hampi setengah dari luas wilayahnya. Di dalam laporannya Guntur menggambarkan salah satu tantangan dalam berdakwah di daerah itu adalah kondisi jalan raya di sekitar daerah terpencil di Kecamatan Donggo yang sangat sulit untuk dilalui kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black;"&gt;Kondisi jalan yang sulit dilalui ini, menurut penilaian Guntur, menyebabkan perkembangan pembangunan ekonomi maupun sosial agak sulit didambakan. Ditambah lagi ada sekelompok masyarakat yang mempertahankan adat atau kepercayaan pada benda-benda keramat. Kondisi yang demikian itu juga menjadikan daerah pesisir yang mayoritas penduduknya adalah muslim ini sebagai salah satu daerah yang rawan pemurtadan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black;"&gt;Sekilas Islam di Bima&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kabupaten Bima berdiri pada tanggal 5 Juli 1640 M, ketika Sultan Abdul Kahir dinobatkan sebagai Sultan Bima I yang menjalankan pemerintahan berdasarkan Syariat Islam. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Bima yang diperingati setiap tahun.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ada beberapa pendapat mengenai proses masuknya Islam di Bima. Dalam buku Peranan Kesultanan Bima dalam Perjalanan Sejarah Nusantara karangan M. Hilir Ismail, Islam tersebar di wilayah Lombok dan Sumbawa salah satunya dibawa oleh Sunan Prapen yang merupakan putra Sunan Giri pada 1540 – 1550 M. Arus Islamisasi yang besar juga berasal dari para pedagang Sulawesi sekitar 1617 M. Kesultanan Bima dalam kancah politik Nusantara, pada abad ke-17, banyak mengalami berbagai pergolakan, baik di dalam tubuh Bima sendiri maupun di wilayah timur Nusantara. Islam masuk ke wilayah pemerintahan Kesultanan Bima tidak terlepas dari pengaruh kerajaan-kerajaan di Makasar, khususnya Kerajaan Gowa. Hubungan bilateral Kesultanan Bima dengan Kerajaan Gowa terjalin dengan baik, karena persamaan ideologi kerajaan (Islam), juga karena adanya hubungan darah di antara pemegang kekuasaan kedua kerajaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada masyarakat Bima, tradisi Islam masih kental terlihat. Misalnya saja penggunaan Tembe Nggoli, yaitu sarung tenun tangan khas Bima yang dibuat dari benang kapas (katun). Wanita Bima memakai sarung sebagai pakaian “bawahan”, bahkan masih ada yang menggunakan dua buah sarung, yang disebut “rimpu”. Rimpu adalah cara wanita Bima menutup aurat bagian atas dengan sarung sehingga hanya kelihatan wajah atau matanya saja seperti jilbab atau burqah. Rimpu yang hanya kelihatan mata disebut “rimpu mpida”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di Kecamatan Donggo dan Soromandi, menurut pengamatan Guntur, pada umumnya masyarakat secara mayoritas memiliki keterikatan social yang tinggi baik dalam hal bergotong royong, pengembangan desa, maupun hal yang lain seperti pernikahan. Kalau diadakan pernikahan secara Islami dalam lingkungan setempat dari RT hingga Kepala Desa masyarakat sama-sama menyumbang demi meringankan beban pada kalangan keluarga yang berhajat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemudian urusan membangun rumah juga demikian. Mereka saling bantu-membantu. Guntur melihat kebiasaan ini masyarakat tetap pertahankan dan dibudayakan sesuai dengan ajaran Islam yaitu saling amal maruf dan mencegah kemungkaran atau saling tolong-menolong dalam hal kebaikan dan menentang segala keburukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Organisasi Islam juga sudah ada dan cukup memberikan kontribusi yang baik bagi pembangunan daerah itu. Organisasi yang ada itu antara lain Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang sama-sama telah mengembangkan pesantren untuk pembekalan pendidikan kepada masyarakat. Koperasi juga didirikan oleh Muhammadiyah untuk pengembangan ekonomi masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black;"&gt;Aktivitas Dakwah Da’i MTDK &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akhir-akhir ini berbagai cobaan seringkali menimpa penduduk di Kecamatan Donggo dan Soromandi. Menurut situs &lt;i&gt;Suara NTB&lt;/i&gt;, nasib petani di Kecamatan Donggo dan Soromandi Kabupaten Bima, selalu kurang beruntung. Jika sebelumnya tanaman padi diwarnai gagal tanam, Februari kemarin mereka mendapat cobaan berupa serangan hama pada tanaman kedelai. Ratusan hektar tanaman kedelai rusak diserang ulat. Para petani di Kecamatan Donggo mengeluhkan kondisi itu sejak awal Februari lalu ketika hujan tak kunjung reda siang malam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di Soromandi, wilayah tetangga Kecamatan Donggo, kondisinya tidak berbeda. Di lahan mereka terlihat daun kedelai tidak lagi rimbun akibat digerogoti ulat. Jenis ulat dari ukuran kecil hingga sebesar jempol orang dewasa hinggap di daun dan dahan kedelai sembari mengunyah. Petani sudah cukup hafal, serangan ulat biasanya terjadi jika hujan turun malam hari. Apalagi hujannya cukup deras, maka petani tinggal “gigit jari” sembari menghitung kerugian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kekhawatiran petani juga tidak sampai di situ saja. Setelah serangan ulat mereda, dipastikan muncul serangan hama wereng yang biasanya hadir saat kedelai mulai berbuah. Sasarannya sama, daun kedelai yang subur. Sementara sepengetahuan petani, biji kedelai yang sehat tergantung kesuburan daun. Serangan ulat juga terjadi pada kacang dan jagung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Melihat kondisi daerah yang seperti itu, maka selain mendidik dan mengajarkan masalah pentingnya pemahaman dan melaksanakan ajaran Islam yang baik dan sempurna dalam pengembangan dakwah di daerah sasaran, da’i MTDK juga membangun program dakwah yang bergerak di bidang pertanian. Apalagi memang kebanyakan masyarakat setempat menggantungkan diri di sektor pertanian. Usaha-usaha yang dilakukan misalnya bersama-sama masyarakat membangun gerakan peduli tani, mengadvokasi masyarakat agar mendapatkan perhatian dari pemerintah seperti pemberian bibit dan mesin untuk pertanian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam laporan sebelumnya yaitu laporan bulan Juli tahun 2009, Guntur menuliskan bahwa banyak masyarakat tertinggal yang diberikan pendalaman mengenai ajaran dan tuntunan Islam namun lemah dalam mempertahankan pengembangan ekonomi, baik ekonomi melalui pertanian seperti mengolah tanah, pengembangan bibit atau perbaikan sumber mata air sebagai factor utama untuk mengairi tanaman-tanaman di daerah sasaran dakwah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Membiarkan ketertinggalan tentu tidak sesuai dengan hakikat Islam. Karena itu di daerah pesisir itu, da’i dengan kelompok pertanian masyarakat setempat berusaha membina masyarakat tertinggal melalui penyuluhan keagamaan sekaligus pembinaan masyarakat pertanian, agar kehidupan masyarakat dapat berubah baik dalam menjalankan ibadah khusus sesuai ajaran Islam maupun pengembangan perekonomiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada Februari 2010 kemarin, Muhammad Guntur juga tetap fo&lt;/span&gt;k&lt;span lang="IN"&gt;us pada pengembangan dakwah Islam yang tidak melupakan upaya pengembangan ekonomi masyarakat. Beberapa kegiatan yang ia lakukan, yaitu mendidik dan mengajar masalah pentingnya pemahaman dan melaksanakan ajaran Islam yang baik dan sempurna; serta membantu masyarakat desa terisolir dalam pembinaan pengembangan pertanian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam kegiatan tersebut, yang utama dibekali adalah semangat kerja keras untuk mengubah tata kehidupan baik masalah agama, ekonomi maupun sosial. Guntur berharap dengan melaksanakan pendekatan dakwah seperti ini mudah-mudahan masyarakat setempat bisa tetap hidup lebih baik dan sejahtera. Ia juga memberikan motivasi dakwah agar mereka bekerja keras dan dapat mengeluarkan sebagian harta bendanya untuk kepentingan Islam seperti pembangunan Masjid, Mushollah dan Sekolah yang bernuansa Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada bulan Maret 2010, untuk meningkatkan peran dakwah pada daerah sasaran baik yang berkaitan dengan akidah maupun amalan, da'i MTDK itu melakukan dakwah baik di rumah, majelis taklim, melalui seruan di mimbar dan di sekolah. Hal itu dilakukan semata-mata agar masyarakat sasaran dakwah memahami dan menerapkan seruan dakwah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sedangkan pada bulan April 2010, dilakukan pembinaan dalam hal sosialisasi ajaran Islam terutama sekali yang berkaitan dengan tujuan sasaran pada masyarakat khusus. Pada masyarakat khusus daerah terpencil perlu pemahaman yang serius tentang tujuan dakwah, karena mereka membutuhkan dakwah yang berulang-ulang terutama tentang sholat, zakat, puasa dan lain-lain. Di samping itu pembinaan-pembinaan yang lain untuk mendukung keberlangsungan kehidupan mereka juga terus dilakukan, seperti memompa semangat untuk bekerja keras, baik dalam pertanian, perkebunan, perdagangan dan lain - lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam menutup laporannya, Guntur menuliskan bahwa berdakwah pada masyarakat desa terpencil supaya tidak lupa untuk meningkatkan usaha masyarakat setempat agar hasil dapat meningkat dan kehidupan masyarakat di desa tersebut sejahtera dan aman. Dengan pembinaan seperti ini masyarakat setempat dapat merasakan baik masalah pengetahuan agama, ekonomi dan sebagainya bisa berjalan dengan baik dengan ridho Allah Swt. [Laporan: Firmansyah/ Majalah Tabligh]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5435557265716702785-8069225784486625270?l=dakwah-terpencil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/feeds/8069225784486625270/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/06/dakwah-pemberdayaan-masyarakat-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/8069225784486625270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/8069225784486625270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/06/dakwah-pemberdayaan-masyarakat-di.html' title='&lt;center&gt;Dakwah Pemberdayaan Masyarakat di Donggo dan Soromandi&lt;/center&gt;'/><author><name>MTDK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10130481584788844596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/TCq10tQtrcI/AAAAAAAAAB4/WEKIPt45Ifo/s72-c/soromandi5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5435557265716702785.post-4192309139559738047</id><published>2010-06-16T17:47:00.000+07:00</published><updated>2010-06-16T17:51:28.210+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Daerah'/><title type='text'>DDIIA Bina Ratusan Muallaf Perbatasan Aceh-Sumut </title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/TBirdE70i3I/AAAAAAAAABw/QPjrLOV7qnw/s1600/mualafaceh.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/TBirdE70i3I/AAAAAAAAABw/QPjrLOV7qnw/s320/mualafaceh.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dewan Dakwah Islam Indonesia Aceh (DDIIA) melakukan pembinaan terhadap ratusan Muallaf (orang yang baru masuk Islam) dari sejumlah desa di Kabupaten Aceh Singkil, atau perbatasan Provinsi Aceh dengan Sumatera Utara (Sumut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pembinaan terhadap Muallaf itu merupakan kerja sama DDI dengan Baitul Mal Aceh, dengan harapan bisa membantu perekonomian dan pendidikan anak-anak mereka (muallaf) di perbatasan tersebut," kata Sekjen DDIIA, Said Azhar, di Banda Aceh, Senin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap awal pembinaan pemahaman tentang Islam, terkait dengan aqidah dan ibadah praktis bagi ratusan Muallaf, terutama mereka yang berdomisili di Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil, tambah dia menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, katanya, akan dilakukan proses pemberdayaan ekonomi yang bertujuan untuk kesejahteraan para muallaf dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Aceh Singkil, DDIIA dan Baitul Mal Aceh juga akan membekali sebanyak 25 Muallaf yang tersebar di beberapa desa di Kota Subulussalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baitul Mal Aceh juga akan menyediakan dana untuk pengadaan buku bacaan, dan rekrutmen pemberian beasiswa kepada anak-anak mereka, seperti dana operasional anak-anak sekolah yang masing-masing diberikan senilai Rp100 ribu/bulan," jelas dia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beasiswa tersebut hanya diberikan kepada anak Muallaf yang masih duduk dibangku sekolah dari keluarga kurang mampu, sebagai upaya untu menghindari anak-anak jangan sampai putus sekolah akibat tidak memiliki uang.&lt;br /&gt;"Melalui pembekalan dan pemberian beasiswa itu diharapkan dapat memberi pemahaman konprehensif tentang Islam bagi para Muallaf. Dan menjawab kebutuhan mereka sebagai langkah awal belajar Islam dan proses pemberdayaan kesejahteraan keluarganya," katanya. [ant/&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/"&gt;hidayatullah.com&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: Gadis Batak menganut Islam mengucap dua kalimah syahadat di Mesjid Agung Bireuen.[Bahrul Walidin/Rakyat Aceh]  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5435557265716702785-4192309139559738047?l=dakwah-terpencil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/feeds/4192309139559738047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/06/ddiia-bina-ratusan-muallaf-perbatasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/4192309139559738047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/4192309139559738047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/06/ddiia-bina-ratusan-muallaf-perbatasan.html' title='&lt;center&gt;DDIIA Bina Ratusan Muallaf Perbatasan Aceh-Sumut &lt;/center&gt;'/><author><name>MTDK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10130481584788844596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/TBirdE70i3I/AAAAAAAAABw/QPjrLOV7qnw/s72-c/mualafaceh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5435557265716702785.post-1835603842818898321</id><published>2010-04-23T16:16:00.002+07:00</published><updated>2010-04-23T16:25:17.036+07:00</updated><title type='text'>MENEGAKKAN PANJI ISLAM DI BUMI PAPUA</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_1pxvs-kwgA8/S9Fmy0bWcEI/AAAAAAAAAU8/YB313kRhjT8/s1600/papua_1990_mosaic_sml.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463260846229975106" src="http://1.bp.blogspot.com/_1pxvs-kwgA8/S9Fmy0bWcEI/AAAAAAAAAU8/YB313kRhjT8/s320/papua_1990_mosaic_sml.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 246px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Akhir November 2009, menjelang Idul Adha 1430 H, Wakil Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fakhrurrazi Reno Sutan berkesempatan menyambangi daerah Sorong, Papua Barat. Kedatangan perwakilan MTDK di bumi Papua bertujuan untuk melaksanakan program Supervisi Da’i. Sebagai Pimpinan Pusat Muhammadiyah, MTDK memiliki program untuk melakukan supervisi bagi kader-kadernya di daerah, terutama bagi para da’i di daerah sebagai ujung tombak dari pelaksanaan dakwah Islam. Jadi Fakhrurrazi tidak hanya datang untuk ‘menengok-nengok’ da’inya di daerah saja, akan tetapi ada program yang harus dilaksanakan bersama para mubaligh di timur Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Supervisi Da’i di Papua pada dasarnya diselenggarakan oleh para da’i di Papua sendiri. Bentuk program yang dilaksanakan berupa pelatihan atau lokakarya bagi para mubaligh dan kader-kader Muhammadiyah. Perwakilan MTDK Pimpinan Pusat Muhammadiyah datang sebagai undangan dan pemateri untuk memberikan materi-materi pelatihan sekaligus memberikan motivasi-motivasi untuk dakwah di daerah terpencil. Selain itu, juga diminta sebagai khatib Idul Adha di Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sorong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping memberikan pelatihan, Fakhrurrazi juga berkesempatan bersilaturahmi dengan da’i daerah terpencil yang telah ditugaskan oleh MTDK sebelumnya, di antaranya yaitu Niko Ismail dan Ustadz Ahmad. Niko Ismail diangkat sebagai da’i yang cakupan dakwahnya adalah Kota Sorong dan Kabupaten Sorong. Sedangkan Ustadz Ahmad cakupannya hanya di Kabupaten Sorong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya tersebut, Fakhrurrazi melihat umat Islam di Papua terutama di daerah Sorong sudah cukup banyak. Dakwah Islam di daerah itu juga telah berlangsung cukup lama. Mujahidien Umar, reporter Tabligh, mendapatkan informasi bahwa Islam ternyata masuk lebih awal sebelum agama lainnya di Papua. Berikut penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islamisasi Papua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam masuk lebih awal sebelum agama lainnya di Papua. Namun, banyak upaya pengaburan, seolah-olah, Papua adalah pulau Kristen. Ali Atwa, penulis buku Islam atau Kristen Agama Orang Irian (Papua), menjelaskan bagaimana upaya-upaya pengaburan dan penghapusan sejarah dakwah Islam berlangsung dengan cara sistematis di seantero negeri ini. Alhasil, setelah Sumetera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Maluku diklaim sebagai kawasan Kristen, kini giliran Papua yang diklaim milik Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis. Padahal faktanya Islam telah hadir jauh sebelum kedatangan para misionaris Kristen. Menurut HJ. de Graaf, seorang ahli sejarah asal Belanda, Islam hadir di Asia Tenggara melalui tiga cara: pertama, melalui dakwah yang dilakukan para pedagang Muslim; kedua, melalui dakwah yang dilakukan para dai dan orang-orang suci yang datang dari India atau Arab yang sengaja ingin mengislamkan orang-orang kafir; dan ketiga, melalui kekuasan atau peperangan dengan negara-negara penyembah berhala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan-catatan yang ada menunjukkan bahwa kedatangan Islam di tanah Papua, sesungguhnya sudah sangat lama. Islam datang ke sana melalui jalur-jalur perdagangan sebagaimana di kawasan lain di Nusantara. Sisa-sisanya masih dapat dilacak, terutama di daerah pelabuhan seperti di Manokwari, Sorong, dan Fakfak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya hingga saat ini belum ditentukan secara persis kapan hal itu terjadi. Sejumlah seminar yang pernah digelar seperti di Aceh pada tahun 1994, termasuk yang dilangsungkan di ibukota provinsi Kabupaten Fakfak dan di Jayapura pada tahun 1997, belum menemukan kesepakatan itu. Namun yang pasti, jauh sebelum para misionaris menginjakkan kakinya di kawasan ini, berdasarkan data otentik yang diketemukan saat ini menunjukkan bahwa mubaligh-mubaligh Islam telah lebih dahulu berada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas dakwah Islam di Papua merupakan bagian dari rangkaian panjang syiar Islam di Nusantara. Kajian oleh L.C. Damais dan de Casparis dari sudut paleografi membuktikan bahwa telah terjadi saling pengaruh antara dua kebudayaan yang berbeda (yakni antara Hindu-Budha-Islam) pada awal perkembangan Islam di Jawa Timur. Melalui data-data tersebut, dapat dijelaskan bahwa sesungguhnya dakwah Islam sudah terjadi jauh sebelum keruntuhan total kerajaan Majapahit yakni tahun 1527 M. Dengan kata lain, ketika kerajaan Majapahit berada di puncak kejayaannya, syiar Islam juga terus menggeliat melalui jalur-jalur perdagangan di daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Majapahit di delapan mandala (meliputi seluruh nusantara) hingga Malaysia, Brunei Darussalam, hingga di seluruh kepulauan Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa antara abad XIV-XV memiliki arti penting dalam sejarah kebudayaan Nusantara, di mana pada saat itu ditandai hegemoni Majapahit sebagai Kerajaan Hindu-Budha mulai pudar. Se-zaman dengan itu, muncul zaman baru yang ditandai penyebaran Islam melalui jalur perdagangan Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui jalur damai perdagangan itulah, Islam kemudian semakin dikenal di tengah masyarakat Papua. Kala itu penyebaran Islam masih relatif terbatas di kota-kota pelabuhan. Para pedagang dan ulama menjadi guru-guru yang sangat besar pengaruhnya di tempat-tempat baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kerajaan tangguh masa itu, kekuasaan Kerajaan Majapahit meliputi seluruh wilayah Nusantara, termasuk Papua. Beberapa daerah di kawasan tersebut bahkan disebut-sebut dalam kitab Negarakertagama, sebagai wilayah yurisdiksinya. Dari keterangan yang diperoleh dalam kitab klasik itu, menurut sejumlah ahli bahasa yang dimaksud “Ewanin” adalah nama lain untuk daerah “Onin” dan ”Sran” adalah nama lain untuk “Kowiai”. Semua tempat itu berada di Kaimana, Fak-Fak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Thomas W. Arnold dalam The Preaching of Islam, setelah kerajaan Majapahit runtuh, dan wilayah-wilayahnya banyak diambil alih oleh kerajaan Islam Demak, pemegang kekuasan berikutnya adalah Demak Islam. Dapat dikatakan sejak zaman baru itu, pengaruh kerajaan Islam Demak juga menyebar ke Papua, baik langsung maupun tidak. Dari sumber-sumber Barat diperoleh catatan bahwa pada abad ke XVI sejumlah daerah di Papua bagian barat, yakni wilayah-wilayah Waigeo, Missool, Waigama, dan Salawati, tunduk kepada kekuasaan Sultan Bacan di Maluku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber cerita rakyat mengisahkan bahwa daerah Biak Numfor telah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Sultan Tidore. Sejak abad ke-XV. Sejumlah tokoh lokal, bahkan diangkat oleh Sultan Tidore menjadi pemimpin-pemimpin di Biak. Mereka diberi berbagai macam gelar, yang merupakan jabatan suatu daerah. Sejumlah nama jabatan itu sekarang ini dapat ditemui dalam bentuk marga/fam penduduk Biak Numfor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah Khusus Muhammadiyah Menjangkau Papua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini perkembangan Dakwah Islam di Papua berkembang sangat pesat, hal ini ditandai semakin banyaknya masjid berdiri di sana. Terutama di daerah Sorong, Papua Barat. Menurut Ustadz Niko Ismail jumlah masjid yang ada di daerah Sorong sekarang ini berjumlah 17 Masjid. Ustadz Niko menambahkan, kondisi dakwah Islam di sana jauh lebih baik dari 10 tahun yang lalu, jumlah umat Islam di Sorong saat ini 15.000 jiwa, selain itu kristenisasi juga semakin berkurang, karena jumlah Da’i juga semakin bertambah. Bahkan, Fakhrurrazi mengatakan di Kabupaten Sorong jumlah umat Islam sudah berbanding lebih besar jumlahnya daripada umat lain. Karena intens sekali dakwah Islam di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fakhrurrazi, Persyarikatan Muhammadiyah sendiri sebenarnya sudah lama masuk Papua. Tahun 1920-an anggota-anggota Muhammadiyah sudah ada di Sorong, tapi baru berbentuk cabang dari Makassar. Anggota-anggota di Sorong pada tahun-tahun itu sudah membentuk kelompok-kelompok kajian. Di sorong pada waktu itu juga sudah ada majelis-majelis. Selain itu, dakwah Muhammadiyah juga telah sampai ke merauke pada sekitar tahun 1924. Pada tahun-tahun belakangan ini, dakwah di sana juga terbantu dengan adanya program transmigrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah di Sorong juga cukup baik. Di wilayah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sorong sudah ada Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar hingga Sekolah Tinggi, yaitu Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhamammdiyah Kabupaten Sorong. Untuk lembaga pendidikan ini juga ada Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah serta panti asuhan. Di daerah itu juga sudah terdapat tanah wakaf Muhammadiyah yang luar biasa luasnya, ada yang sudah dibangun masjid. Dan juga sudah ada rencana akan dibangun Rumah Sakit Muhammadiyah Kabupaten Sorong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Sorong amal usahanya sudah memiliki universitas, Universitas Al-Amin (Unamin). Di universitas tersebut ada berbagai fakultas mulai dari ilmu agama dan umum yang sudah cukup bagus kualitasnya. Panti asuhan juga ada di daerah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, menurut ustadz Niko, tantangan yang paling berat dirasakan umat Islam Papua adalah masalah penerimaan pegawai, di mana orang Islam mengalami diskriminasi dalam hal itu. Orang Islam tidak dapat mencapai jenjang kepegawaian yang lebih tinggi disana. Majelis Pimpinan Rakyat Papua memutuskan semua jabatan tinggi seperti Gubernur, Bupati, Walikota, itu harus dipegang oleh orang Kristen atau non Muslim. Inilah salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh Umat Islam Papua. Selain itu adanya isu Peraturan Daerah (Perda) larangan adzan dan penggunaan jilbab bagi muslimah juga menjadikan sebagian umat Islam merasa ketakutan terhadap isu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, Ustadz Niko beserta Umat Islam di sana tetap tegar dan istiqomah, meski tantangan demi tantangan harus dihadapi oleh mereka. Fakhrurrazi juga mengatakan untuk terus mengembangkan dakwah di Papua, MTDK akan terus melakukan pengembangan da’i. Program yang telah direncanakan yaitu pengembangan da’i reguler yaitu dengan melatih da’i setempat dan membekali strategi dakwah terpencil serta akan diusahakan untuk mendukungnya dengan dana bulanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya da’i-da’i itu akan bekerja dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas Sumber Daya Insani yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt, berbuat untuk diri dan keluarganya, berguna bagi masyarakat, bangsa dan negaranya. Mujahidien Umar&lt;br /&gt;Firmansyah&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5435557265716702785-1835603842818898321?l=dakwah-terpencil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/feeds/1835603842818898321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/04/menegakkan-panji-islam-di-bumi-papua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/1835603842818898321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/1835603842818898321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/04/menegakkan-panji-islam-di-bumi-papua.html' title='MENEGAKKAN PANJI ISLAM DI BUMI PAPUA'/><author><name>Forum Konsultasi Pelajar Muslim Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00439361135662487219</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_1pxvs-kwgA8/TLKzVul7ktI/AAAAAAAAAZY/zrZLb6E776I/S220/27545_109946294642_2364_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_1pxvs-kwgA8/S9Fmy0bWcEI/AAAAAAAAAU8/YB313kRhjT8/s72-c/papua_1990_mosaic_sml.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5435557265716702785.post-1169945365769308666</id><published>2010-04-23T06:48:00.002+07:00</published><updated>2010-06-30T10:14:35.748+07:00</updated><title type='text'>Daftar Donatur Tetap Program Da`i Daerah Terpencil 2005-20010</title><content type='html'>&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page WordSection1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.WordSection1  {page:WordSection1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1.  Dai MTDK PP Muhammadiyah tahun&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; 2006  (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;74 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2.  Yayasan Bamuis BNI&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;  &lt;span lang="IN"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;10 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;3.  Baznas  &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;10 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;br /&gt;4.  Lazismuh&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;15 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;)  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;5.  Dr. H. Hidayat Nur Wahid, M&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;A  (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;3 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;br /&gt;6.  Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, MA.  &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;br /&gt;7.  Ir. Aburizal Bakrie&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;8.  Dr. Ir.  Dradjad Hari Wibowo, M.Ec.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;  (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;2 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;br /&gt;9.  dr. Fasli Jalal, Ph.D&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;    (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;br /&gt;10. Drs. H. Andi Syamsu Alam, SH., MH&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;   (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;11. H. Rahimullah, SH, MH.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;  (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;)  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;12. Drs. H. Hajriyanto Y. Thohari, MA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;    &lt;br /&gt;13. Universitas Muhammadiyah Purwokerto   &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;    &lt;br /&gt;14. Dr. Ir. Boen Mochtar Purnama, M.Sc&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;  (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;5 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;    &lt;br /&gt;15. Drs. H. Ali Warsito.  &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;   &lt;br /&gt;16. H. Patrialis Akbar, SH.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;17. Nurhadi M Musawir, SH, MH&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;   (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;18. Drs. Marzuki Usman, MA      &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;2 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;19. Dr. M.S. Kaban, M.Si    &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;3 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;br /&gt;20. Dr.  Nirwansyah, Sp. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;B  (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;br /&gt;21. Drs. H. Darul Siska &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;br /&gt;22. Dr. dr. Siti Fadilah Supari, SPJ(K)  &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;3 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;23. dr. Fahmi Darmawansyah, MM   &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; 2 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;24. Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka Jakarta   &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;br /&gt;25. H. Imam Syuja’. SE  &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;br /&gt;26. ZIS RS. Islam  Jakarta Cempaka Putih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;5 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;)  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;br /&gt;27. H. Soetrisno Bachir&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;2 orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;br /&gt;28. Ir. Ichwan Ishak, M. Si   &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1  orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;br /&gt;29. Universitas Muhammadiyah Palembang&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;1  orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt; &lt;br /&gt;30. ZIS RS. Islam Jakarta Pondok Kopi   &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;5  orang dai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;&amp;quot;;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5435557265716702785-1169945365769308666?l=dakwah-terpencil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/feeds/1169945365769308666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/04/daftar-donatur-tetap-program-dai-daerah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/1169945365769308666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/1169945365769308666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/04/daftar-donatur-tetap-program-dai-daerah.html' title='&lt;center&gt;Daftar Donatur Tetap Program Da`i Daerah Terpencil 2005-20010&lt;/center&gt;'/><author><name>MTDK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10130481584788844596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5435557265716702785.post-4144511297136830329</id><published>2010-04-16T23:11:00.001+07:00</published><updated>2010-04-23T08:58:13.946+07:00</updated><title type='text'>Geliat Dakwah di Pedalaman Baduy </title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sekilas Masyarakat Baduy&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1pxvs-kwgA8/S9B_JudVtOI/AAAAAAAAAUU/5vGX4ZcIkMg/s1600/lumbung-padi.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_1pxvs-kwgA8/S9B_JudVtOI/AAAAAAAAAUU/5vGX4ZcIkMg/s320/lumbung-padi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Menyebut kata Badui mungkin orang langsung membayangkan sebuah suku masyarakat terpencil yang tinggal di pedesaan udik dan terisolasi dari berbagai perkembangan dunia yang semakin hari semakin mengglobal. Suku Badui yang terletak di wilayah selatan Provinsi Banten itu merupakan suatu kesatuan masyarakat yang terikat oleh kesamaan budaya, bahasa Sunda Badui, hidup berladang atau bercocok tanam, dan memegang teguh agama Sunda Wiwitan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;Suku Baduy terletak di wilayah selatan Provinsi Banten dan merupakan suatu kesatuan masyarakat yang terikat oleh kesamaan budaya, bahasa Sunda Badui, hidup berladang atau bercocok tanam, dan memegang teguh agama Sunda Wiwitan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau kita menyimak cerita rakyat khususnya di wilayah Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak umumnya sewilayah Banten suku Baduy berasal dari 3 tempat sehingga baik dari cara berpakaian, penampilan serta sifatnya pun sangat berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;Konon pada sekitar abad ke XI dan XII Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh tanah Pasundan yakni dari Banten, &lt;st1:city w:st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:city&gt;, Priangan samapai ke wilayah &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Cirebon&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Pada waktu itu yang menjadi Rajanya adalah Prabu Bramaiya Maisatandraman alias Prabu Siliwangi. Kemudian pada sekitar abad ke XV dengan masuknya ajaran Agama Islam yang dikembangkan oleh saudagar-saudagar Gujarat dari Saudi Arabia dan Wali Songo dalam hal ini adalah Sunan Gunung Jati dari Cirebon, dari mulai Pantai Utara sampai ke Selatan daerah Banten, sehingga kekuasaan Raja semakin terjepit dan rapuh dikarenakan rakyatnya banyak yang masuk Islam.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Menurut cerita yang menjadi senopati di Banten pada waktu itu adalah putra dari Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Seda dengan gelar Prabu Pucuk Umun setelah Cirebon dan sekitarnya dikuasai oleh Sunan Gunung Jati, maka beliau mengutus putranya yang bernama Sultan Hasanudin bersama para prajuritnya untuk mengembangkan agama Islam di wilayah Banten dan sekitarnya. Sehingga situasi di Banten Prabu Pucuk Umun bersama para ponggawa dan prajurutnya meninggalkan tahta di Banten memasuki hutan belantara dan menyelusuri sungai Ciujung sampai ke Hulu sungai , maka tempat ini mereka sebut Lembur Singkur Mandala Singkah yang maksudnya tempat yang sunyi untuk meninggalkan perang dan akhirnya tempat ini disebut GOA Panembahan Arca Domas yang sangat di keramatkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud suku Pengawinan adalah dari percampuran suku-suku yang pada waktu itu ada yang berasal dari daerah Sumedang, priangan, Bogor, Cirebon juga dari Banten. Jadi kebanyakan mereka terdiri dari orang-orang yang melangggar adat sehingga oleh Prabu Siliwangi dan Prabu Pucuk Umun dibuang ke suatu daerah tertentu. Golongan ini pun ikut terdesak oleh perkembangan agama Islam sehingga kabur terpencar ke beberapa daerah perkampungan, tapi ada juga yang kabur kehutan belantara, sehingga ada yang tinggal di Guradog kecamatan Maja, ada yang terus menetap di kampung Cisungsang kecamatan Bayah, serta ada yang menetap di kampung Sobang dan kampung Citujah kecamatan Muncang. Sisanya terpencar menyusuri sungai Ciberang, Ciujung, dan sungai Cisimeut masing-masing menuju ke hulu sungai. Akhirnya kelompok inilah yang menetap di 27 perkampungan di Baduy Panamping (Baduy Luar) desa Kanekes kecamatan Leuwidamar kabupaten Lebak. Ciri-ciri mereka: berpakaian serba hitam, ikat kepala batik biru tua, boleh bepergian dengan naik kendaraan, berladang berpindah-pindah, menjadi buruh tani, mudah diajak berbicara tapi masih tetap terpengaruh adanya hukum adat karena merekan masih harus patuh dan taat terhadap Hukum adat. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;Terhadap suku Baduy Panamping, pada tahun 1978, pemerintah mengadakan proyek PKMT (pemukiman kembali masyarakat terasing) yang lokasinya di kampung Margaluyu dan Cipangembar desa Leuwidamar kecamatan Leuwidamar. Proyek ini terus dikembangkan di kampung Kopo I dan II, kampung Sukamulya dan kampung Sukatani desa Jalupangmulya kecamatan Leuwidamar. Suku Baduy Panamping yang telah dimukimkan inilah yang disebut Baduy Muslim. Kelompok ini telah memeluk agama Islam. Bahkan ada yang sudah melaksanakan rukun Islam yang ke 5, menunaikan ibadah Haji. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dakwah ke Pedalaman Baduy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;Cerita panjang tentang masyarakat Baduy ini sebenarnya menjadi bukti bahwa Agama Islam telah lama dikenal oleh masyarakat Baduy. Namun seiring perjalanan waktu, banyak masyarakat baduy yang kemudian berpindah agama. Apalagi dengan adanya upaya kristenisasi yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat Kristen di sana. Inilah yang kemudian menjadi sebuah tantangan dakwah Islam untuk mempertahankan aqidah umat Islam yang ada di baduy itu agar tidak mudah dipengaruhi oleh pemahaman-pemahaman yang memurtadkan umat Islam dari agamanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tabligh dan Dakwah Khususnya (MTDK) mengutus 6 orang Dai ke pedalaman Baduy untuk menyelamatkan umat Islam sekaligus memberi pemahaman kepada mereka tentang ajaran Islam yang benar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;Menurut ustadz Engkos, salah seorang Dai MTDK yang berada di sana, kegiatan dakwah Islam di Baduy ini membutuhkan perjuangan yang tinggi, terutama dalam menghadapi pengaruh kristenisasi. Pola kristenisasi yang sering terjadi di pedalaman Baduy pada umumnya konvensiona, yaitu dengan cara membagikan sembako kepada penduduk Baduy. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pernah suatu kali rombongan ustadz Engkos mendapat intimidasi agar tidak menyebarkan agama Islam di salah satu desa yang ada di wilayah Baduy. Meski akhirnya persoalan itu dapat diatasi tanpa harus melakukan kontak fisik. Untuk menyampaikan dakwah Islam di Baduy itu, tak jarang para dai harus menempuh perjalanan menelusuri beberapa desa dengan berjalan jalan kaki hingga empat kilometer. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dakwah yang tak pernah kenal lelah itu menghasilkan perkembangan dakwah Islam yang baik. Perlahan-lahan penyampaian dakwah Islam di wilayah Baduy sudah semakin berkembang. Hal ini terlihat dengan semakin banyaknya musholla dan masjid yang didirikan di beberapa desa pedalaman Baduy. Hingga saat ini sudah terdapat 8 musholla yang berada di wilayah tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Wisata Dakwah Mahasiswa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;Perhatian Muhammadiyah terhadap kegiatan dakwah di daerah terpencil, seperti di Baduy bukan hanya mengutus para dai, tapi juga mengajak para Mahasiswa Muhammadiyah untuk melakukan kegiatan wisata dakwah ke sana. Misalnya, pada tanggal 28 November 2009 lalu, 220 mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) diajak untuk menelusuri eilayah-wilayah dakwah di pedalaman Baduy. Daerah yang dituju adalah desa Muncang di pedalaman Suku Baduy. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Wakil Dekan Fak. Agama Islam UMJ, Drs. Fakhrurrazi Reno Sutan, MA yang juga wakil ketua MTDK PP Muhammadiyah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegiatan wisata dakwah itu diadakan pemberian santunan kepada masyarakat Muslim yang ada di desa Muncang. Para mahasiswa memberikan bantuan berupa 7 ekor kambing, 15 karung pakaian layak, dan uang tunai berjumlah Rp 10 juta untuk operasional masjid yang ada di pedalaman Baduy tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Drs. Fakhrurrazi Reno Sutan, MA, kegiatan wisata dakwah seperti ini sangat menarik bagi para mahasiswa, karena mereka diberikan pengetahuan yang nyata tentang kondisi masyarakat Muslim yang ada di daerah terpencil. Diharapkan para mahasiswa dapat lebih simpati terhadap mereka yang berusaha menegakkan kebenaran Islam di daerah terpencil, seperti di Baduy ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegiatan ini, para mahasiswa diajak menelusuri wilayah Baduy itu dengan berjalan kaki sepanjang 2 kilometer. Dengan cara ini, diharapkan teori-teori dakwah yang selama ini mereka pelajari di bangku perkuliahan, akan mendapatkan pengayaan di lapangan yang nyata. Dalam kegiatan itu pun para mahasiswa diberikan taushiyah oleh para Dai binaan MTDK PP Muhammadiyah yang berada di sana mengenai seluk beluk berdakwah di pedalaman suku Baduy. Rencananya pada tahun yang akan datang kegiatan wisata dakwah seperti ini akan dimasukkan ke dalam kurikulum Fakultas.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sekarang ini suku Baduy terbagi menjadi tiga bagian, yaitu &lt;i&gt;pertama&lt;/i&gt;, Suku Baduy Dalam yang artinya suku Baduy yang berdomisili di Tiga Tangtu (Kepuunan) yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, Suku Baduy Panamping artinya suku Baduy yang bedomisili di luar Tangtu yang menempati di 27 kampung di desa Kanekes yang masih terikatoleh Hukum adat dibawah pimpinan Puuun(kepala adat). &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, Suku Baduy Muslim yaitu suku Baduy yang telah dimukimkan dan telah mengikuti ajaran agama Islam dan prilakunya telah mulai mengikuti masyarakat luar serta sudah tidak mengikuti Hukum adat. Semoga, dakwah di wilayah ini semakin marak di masa-masa yang akan datang. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;(Mujahidien Umar/ Majalah Tabligh)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5435557265716702785-4144511297136830329?l=dakwah-terpencil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/feeds/4144511297136830329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/04/geliat-dakwah-di-pedalaman-baduy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/4144511297136830329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/4144511297136830329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/04/geliat-dakwah-di-pedalaman-baduy.html' title='&lt;center&gt;Geliat Dakwah di Pedalaman Baduy &lt;/center&gt;'/><author><name>MTDK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10130481584788844596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1pxvs-kwgA8/S9B_JudVtOI/AAAAAAAAAUU/5vGX4ZcIkMg/s72-c/lumbung-padi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5435557265716702785.post-1473067939513949438</id><published>2010-04-10T15:58:00.000+07:00</published><updated>2010-04-23T07:16:55.091+07:00</updated><title type='text'>Dewan Da’wah Kirim Duta Da'i ke Pedalaman </title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/S8A9bBR_vtI/AAAAAAAAAAY/FLT-vtbzpjA/s1600/duta_dai_ddii.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/S8A9bBR_vtI/AAAAAAAAAAY/FLT-vtbzpjA/s320/duta_dai_ddii.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 7 April 2010, seperti biasa aktifitas di Masjid Al Furqan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Pusat tampak sibuk. Mereke duduk dengan hikmad menanti sebuah perhelatan penting, pelepasan da'i-da'i pedalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasa hening takkala Ustadz H. Syuhada Bahri (Ketum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia) mengatakan, “Tidak ada sebuah pekerjaan yang paling mulia di sisi Allah kecuali kita menjadi da’i, "ujarnya sambil menangis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Nasehat Syuhada Bahri ini disampaikan saat melepas 14 duta da’wah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia ke sejumlah daerah di pedalaman. Diantaranya Halmahera, Nias, Nusa Tenggara Timur, Papua, Palembang, dan tak lupa daerah ujung Bekasi, Jonggol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat acara berlangsung tampak sejumlah Ketua dan Pimpinan Harian Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia seperti Ustad Muzayyin Abdul Wahhab, Ustadz Mas’adi Sulthani, Ust. Misbah Malim, dan lain-lain. Hadir pula Bapak Wisnu Salam beserta para muzakki selaku perwakilan dari Dompet Dhu’afa (DD) yang ikut men-support program. Hadir pula  da’i Dewan Da’wah di Halmahera, Ustad Ridwan Muhammad Ilyas yang kini menjabat sebagai Wakil Bupati datang dan menyempatkan diri menghadiri acara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Membuka perhelatan itu, Mudir STID Mohammad Natsir membuka acara dengan sambutan tak lebih dari 10 menit. Beliau berpesan kepada para mahasiswa yang rata-rata baru menyelesaikan proses ujian skripsi itu bahwa, dituntut kesabaran dalam berda’wah, dituntut pula penambahan ilmu dalam berda’wah. Medan da’wah adalah medan latihan untunk menggembeleng ruh jihad dijalan Allah. Tentunya tetap dengan perangkat ilmu yang terus digali, terutama ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kemasyarakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui, program penempatan da’i ini merupakan kerja besar dari berbagai pihak yang memang memiliki konsentrasi pada pembinaan ummat. Dalam hal ini, LPM (Lembaga Pelayan Masyarakat) Dompet Dhu’afa Republika serta Laziz Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia selaku donator, STID Mohammad Natsir selaku penyuplai du’at, serta Diklat Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia selaku penanggung jawab program berupaya semaksimal mungkin dalam memberikan pengabdian dan pelayanan kepada ummat. [sumber: hidayatullah.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5435557265716702785-1473067939513949438?l=dakwah-terpencil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/feeds/1473067939513949438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/04/dewan-dawah-kirim-duta-dai-ke-pedalaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/1473067939513949438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/1473067939513949438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/04/dewan-dawah-kirim-duta-dai-ke-pedalaman.html' title='&lt;center&gt;Dewan Da’wah Kirim Duta Da&apos;i ke Pedalaman &lt;/center&gt;'/><author><name>MTDK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10130481584788844596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/S8A9bBR_vtI/AAAAAAAAAAY/FLT-vtbzpjA/s72-c/duta_dai_ddii.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5435557265716702785.post-2995206813886269947</id><published>2010-04-07T21:14:00.000+07:00</published><updated>2010-04-23T09:08:32.633+07:00</updated><title type='text'>LDNU: Sulit Mencari Da'i Ikhlas di Daerah Terpencil</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/S7yTE9N3cKI/AAAAAAAAAAQ/7jfzHKOPuv8/s1600/terpencil.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/S7yTE9N3cKI/AAAAAAAAAAQ/7jfzHKOPuv8/s320/terpencil.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt; JAKARTA&lt;/b&gt;--Menjadi seorang da'i dan da'iyah dituntut keikhlasan dalam menjalankan dakwahnya. Apalagi menjangkau umat yang berada di daerah terpencil dan pedalaman.''Saat ini minim da'i dan da'iyah yang mempunyai keikhlasan dalam perjuangan dakwahnya di daerah terpencil,'' tutur Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Nuril Huda kepada Republika, Selasa (6/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuril memaparkan bahwa saat ini mengirim da'i dan da'iyah dari Jakarta ke daerah terpencil terutama lokasi transmigrasi tidak bisa bertahan lama.''Baru dua bulan da'i dan da'iyah yang dikirm bisanya sudah kembali ke Jakarta. Mereka kurang memahami perjuangan berdakwah,'' tutur dia.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu LDNU mulai merintis untuk mencetak da'i dan da'iyah yang berasal dari keluarga transmigrasi.''Kita mulai memanggil calon da'i dan da'iyah ke Jakarta untuk dididik berdakwah. Setelah selesai dididik mereka kembali ke daerah asal untuk berdakwah,'' kata Nuril. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon da'i dan da'iyah akan dididik selama satu bulan di pesantren untuk memahi lebih mendalam tentang agama. Dan LDNU juga secara rutin mengirim naskah agama ke daerah terpencil untuk dipelajari lebih lanjut oleh da'i dan da'iyah yang sudah dilatih di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lima tahun terakhir LDNU sudah mendidik sekitar 700 da'i dan da'iyah untuk diterjunkan ke daerah terpencil. Dan 40 persen diantaranya adalah da'i dan da'iyah yang berasal dari keluarga transmigran.''Karena da'i dan da'iyah yang berasal dari daerah transmigran betul-betul memiliki keikhlasan dan keilmuwan untuk berdakwah di daerah mereka,'' tutur Nuril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuril juga memaparkan bahwa dakwah di daerah terpencil termasuk daerah tujuan transmigrasi sangat penting untuk mendampingi keimanan umat yang mayoritas memprihatinkan.Karena diakui ada beberapa kasus kondisi umat transmigran yang keimanannya minim berpindah agama.''karena itu dakwah di daerah terpencil sangat penting untuk pendampingan umat dan menghindari umat untuk berpindah agama,'' tutur dia.&amp;nbsp; [admin/republika.co.id]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5435557265716702785-2995206813886269947?l=dakwah-terpencil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/feeds/2995206813886269947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/04/ldnu-sulit-mencari-dai-ikhlas-di-daerah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/2995206813886269947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/2995206813886269947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/04/ldnu-sulit-mencari-dai-ikhlas-di-daerah.html' title='&lt;center&gt;LDNU: Sulit Mencari Da&apos;i Ikhlas di Daerah Terpencil&lt;/center&gt;'/><author><name>MTDK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10130481584788844596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yOIqHtqKYYw/S7yTE9N3cKI/AAAAAAAAAAQ/7jfzHKOPuv8/s72-c/terpencil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5435557265716702785.post-2621497545292278776</id><published>2010-03-29T07:40:00.000+07:00</published><updated>2010-04-23T09:06:00.941+07:00</updated><title type='text'>Daerah Terpencil Kekurangan Da'i</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_45EKPtfwBxo/SxiPTZVgtuI/AAAAAAAAAAw/PrVgZgKqOZ4/s400/laskar-pelangi-still-photos-511.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_45EKPtfwBxo/SxiPTZVgtuI/AAAAAAAAAAw/PrVgZgKqOZ4/s400/laskar-pelangi-still-photos-511.jpg" style="display: block; height: 266px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  JAKARTA&lt;/span&gt; --  Daerah-daerah terpencil dan tertinggal yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia sangat membutuhkan kehadiran dai--juru dakwah Islam. Wakil Ketua Pimpinan Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PP Muhammadiyah, Fakhrurazi Reno Sutan, mengungkapkan, saat ini, permintaan terhadap dai dari berbagai daerah terpencil dan tertinggal &lt;span id="formatbar_Buttons" style="display: block;"&gt;&lt;span class="" id="formatbar_JustifyFull" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseup="" style="display: block;" title="Rata Penuh"&gt;&lt;img alt="Rata Penuh" border="0" class="gl_align_full" src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tingginya permintaan terhadap dai belum mampu terpenuhi karena terbatasnya kader dai yang siap dikirim ke daerah-daerah pelosok. ''Tak mudah mencari dai yang siap dikirimkan ke daerah terpencil,'' ungkap Fakhrurazi saat berkunjung ke Republika, Selasa (31/3). Terbatasnya sumber daya manusia, kata dia, menjadi salah satu kendala yang harus segera diatasi.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fakhrurazi, untuk mencari dai yang akan dikirimkan ke Kepulauan Nias saja membutuhkan waktu berbulan-bulan... (Republika, Rabu 1 April 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tantangan dakwah daerah terpencil yang dihadapi. Oleh karenanya sebagai pelaksana dilapangan MTDK (Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus) saat ini telah menerjunkan 157 Dai pendamping diberbagai daerah terpencil dan terasing diseluruh Indonesia. dan Alhamdulillah, atas izin Allah pejuang para Dai pendamping tersebut telah berhasil membina lebih dari 86.875 orang masyarakat terpencil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ditahun 2009/2010 ini MTDK PP. Muhammadiyah akan mengusahakan penambahan pengiriman Dai pendamping kedaerah terpencil dan tertinggal sebanyak 100 Dai. Tanpa dukungan semua elemen masyarakat dan pemerintah, maka program ini tidak akan terlaksana dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu bantuan bapak/ibu sangat kami butuhkan dalam menafkahi biaya hidup para dai ditempat tugasnya. Maka salurkanlah bantuan tersebut melalui rekening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank Mandiri Cabang Cut Meutia,&lt;br /&gt;Nomor: 123-00-453436-0&lt;br /&gt;a.n. PP Muhammadiyah QQ MTDK&lt;br /&gt;bukti transfer dikirim ke MTDK PP Muhammadiyah Telp. Fax: 021-3193 4747&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dukungannya kami ucapakkan terima kasih. Semoga Allah SWT membalas dengan pahala yang berlipat ganda. Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MTDK PP. Muhammadiyah&lt;br /&gt;Jl. Menteng Raya 62, Jakarta Pusat 10340&lt;br /&gt;Telp/Fax: 021-3193 4747&lt;br /&gt;http://www.dakwahterpencil.or.id&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5435557265716702785-2621497545292278776?l=dakwah-terpencil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/feeds/2621497545292278776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/03/daerah-terpencil-kekurangan-dai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/2621497545292278776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/2621497545292278776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/03/daerah-terpencil-kekurangan-dai.html' title='&lt;center&gt;Daerah Terpencil Kekurangan Da&apos;i&lt;/center&gt;'/><author><name>MTDK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10130481584788844596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_45EKPtfwBxo/SxiPTZVgtuI/AAAAAAAAAAw/PrVgZgKqOZ4/s72-c/laskar-pelangi-still-photos-511.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5435557265716702785.post-1386044544518147302</id><published>2010-03-25T20:31:00.001+07:00</published><updated>2010-04-07T21:19:30.266+07:00</updated><title type='text'>BANGKITNYA SEMANGAT DAKWAH DI SIMEULUE</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;b&gt;MAJALAH TABLIGH -&lt;/b&gt; BENCANA tsunami yang menimpa Nanggroe Aceh Daroessalam dan Sumatera Utara pada akhir tahun 2004, membuat nama Pulau Simeulue semakin terkenal. Pulau yang terletak di perairan barat Aceh ini sempat menjadi sorotan media karena merupakan salah satu wilayah yang dekat dengan episentrum gempa pemicu tsunami, hanya berjarak sekitar 60 kilometer. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Saat itu, orang-orang mengira banyak korban tewas di Pulau Simeulue. Tapi perkiraan itu salah total. Tercatat hanya 6 orang korban tewas dan 1 orang hilang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Masyarakat Simeulue mampu meminimalisir korban karena memiliki pengalaman sejarah yang membuat warga dapat bersikap antisipatif terhadap badai tsunami. Pengalaman itu adalah bencana tsunami pada tahun 1907. Masyarakat Simeulue menyebut kejadian alam ini &lt;i&gt;smong&lt;/i&gt;. Sejak kejadian tahun 1907, secara turun-temurun ada semacam pelajaran yang disampaikan bahwa apabila terjadi gempa yang diikuti air laut surut, pasti akan diikuti pula dengan gelombang besar, dan untuk menyelamatkan diri adalah dengan lari ke gunung. Cara seperti inilah yang menyelamatkan masyarakat Simeulue dari tsunami lima tahun lalu.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sekilas Wilayah dan Masyarakat Simeulue&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Berdasarkan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.ri.go.id/produk_uu/isi/uu2000/uu8-00.html" title="http://www.ri.go.id/produk_uu/isi/uu2000/uu8-00.html"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;UU No. 48 Tahun 1999&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;span lang="SV"&gt;Simeulue resmi menjadi kabupaten pada tahun 2000. Pada tahun 2002 terjadi pemekaran, dan sejak itu kabupaten ini terdiri dari delapan kecamatan; yaitu Simeulue Timur, Simeulue Barat, Simeulue Tengah, Salang, Alafan, Teupa Selatan, Teupa Barat dan Teluk Dalam. Terletak pada posisi koordinat 20º15’- 20º55’ Lintang Utara (LU) dan 95º40’ – 96º30’ Bujur Timur (BT), Kabupaten Simeulue memiliki sekitar 41 pulau besar dan kecil, termasuk Pulau Simeulue yang luasnya mencapai 205.148,63 ha. Sekitar 55.947 ha (27,3%) dari luas Pulau Simeulue adalah kawasan lindung dan 43.369 ha (21,1%) adalah kawasan budidaya. Dengan demikian, tutupan lahan kawasan Pulau Simeulue masih cukup luas. Diperkirakan dua per tiga pulau ini masih dipenuhi hutan lebat dengan tanaman yang bernilai ekonomi yaitu kayu-kayuan dan rotan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penduduk Pulau Simeulue berjumlah sekira tujuh puluh ribu jiwa yang tersebar di delapan kecamatan. Tiga bahasa yang dominan di kabupaten ini, yaitu bahasa &lt;i&gt;Defayan&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Salang&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Jamu&lt;/i&gt;. Bahasa Defayan disebut bahasa &lt;i&gt;Simoeloel&lt;/i&gt; oleh orang Simeulue Tengah. Sedangkan bahasa Salang disebut bahasa Sigulai oleh sebagian peneliti. Sebagian tetua di Nasreuhe mengatakan kalau sebenarnya asal muasal bahasa orang Sigulai atau Simeulue Barat pada umumnya adalah berasal dari Salang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bahasa Salang merupakan bahasa mayoritas di kecamatan Salang, Simeluleu Barat dan masyarakat kecamatan Alafan. Bahasa Simoeloel banyak digunakan di kecamatan Simeulue Tengah, Teupah Selatan dan Teupah Barat serta sebagian besar masyarakat di kecamatan Simeulue Timur. Walaupun dekat dengan Aceh, kebanyakan orang Simeulue tidak bisa berbahasa Aceh dengan baik. Hanya mereka yang pernah merantau ke Aceh daratan yang cukup fasih berbahasa Aceh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bahasa Jamu lebih mirip dengan bahasa Minangkabau. Bahasa ini digunakan oleh sebagian penduduk di kecamatan Simeulue Timur terutama di Ibukota Sinabang serta sebagian penduduk yang tersebar di berbagai kecamatan. Di samping itu, terdapat dua bahasa yang hanya digunakan sebagian kecil penduduk, yaitu bahasa Langi di kecamatan Alafan dan bahasa Lekon di kecamatan Teluk Dalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dalam hal budaya, ada beberapa kesenian yang khas di pulau ini, yaitu &lt;i&gt;Nandong&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Buai&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Nanga-nanga&lt;/i&gt;. Nandong seperti berdendang atau menyanyikan syair-syair berbahasa daerah yang berisi nasehat-nasehat atau hikayat, disertai dengan pukulan gendang dua sisi yang bentuknya seperti tabung. Kesenian ini hanya dibawakan oleh kaum laki-laki. Adapun Buai biasanya dilakukan oleh perempuan, berisi nyanyian syair yang mengandung pujian atau nasehat. Sedangkan Nanga-nanga merupakan nanyian yang berisi ratapan atau cerita kepahitan hidup. Ketiga kesenian ini pada dasarnya adalah nyanyian, namun dibawakan dengan irama khas yang berbeda antara satu dengan lain.&lt;br /&gt;Selain itu, ada juga &lt;i&gt;Dabus&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;Dabui&lt;/i&gt;), yaitu acara unjuk kebolehan memainkan benda-benda tajam seperti pisau, parang, kampak dan lain-lain, dengan menghujamkannya ke tubuh si pemain &lt;i&gt;Dabus&lt;/i&gt;. Bahkan yang paling mengerikan, kadang-kadang ada yang menggunakan gergaji mesin. Namun saat ini, dabus sudah agak jarang diadakan. Beberapa tradisi lain yang masih sering dilakukan, yaitu acara &lt;i&gt;manepet&lt;/i&gt; (turun anak), menegakkan rumah, dan berdoa di &lt;i&gt;blang&lt;/i&gt; (sawah).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kebanyakan penduduk Simeulue adalah nelayan dan petani. Laut memberikan penghasilan yang besar. Puluhan ton udang, lobster, ikan kering dan tripang diekspor setiap minggu. Di samping itu, Simeulue dikenal juga sebagai penghasil cengkeh, kopra dan minyak kelapa. Potensi hutannya, seperti kayu dan rotan diekspor ke luar daerah dalam jumlah besar. Simeulue juga dikenal dengan kerbaunya yang berdaging manis. Kerbau Simeulue sangat banyak, mereka hidup bebas di hutan belantara. Walaupun dibiarkan liar, kerbau-kerbau tersebut ada pemiliknya. Potensi wisata di Simeulue juga cukup bagus. Pemandangan yang indah di pesisir&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;pantai dan gelombang yang tinggi sering dimanfaatkan oleh para wisatawan dari mancanegara. Pelabuhan Sinabang yang ada juga sangat indah dengan air tenang karena beberapa pulau melindunginya dari terpaan angin dan badai. Di sekitarnya juga terdapat &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;puluhan pulau kecil yang seolah menjadi pagar hias bagi Pulau Simeulue.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Namun demikian, masyarakatnya masih tetap hidup di bawah garis kemiskinan karena yang meraup keuntungan besar dari hasil alam itu bukanlah penduduk setempat, melainkan pihak luar yang datang mengelola hasil alam di sana. Sarana tranportasi yang kurang memadai juga menyebabkan warga tidak dapat memasarkan hasil pertaniannya dengan baik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Perjalanan Dakwah di Simeulue&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Menurut cerita tutur turun-temurun, pada mulanya Simeulue tidaklah masuk dalam kerajaan Aceh. Baru pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda, keberadaan pulau ini mulai diceritakan seorang wanita Simeulue kepada Sultan. Karena belum tersentuh oleh dakwah Islam, Sultan mengutus seorang ulama dari Minangkabau yang dikenal dengan sebutan &lt;span&gt;Teungku Di Ujung&lt;/span&gt; untuk menyebarkan Islam di sana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pada masa itu, Minangkabau (Sumatera Barat dan beberapa daerah di sekitarnya) merupakan bagian dari kerajaan Aceh. Sedangkan Simeulue yang berdiri sendiri diperintah oleh seorang raja bernama &lt;span&gt;Songsong Bulu&lt;/span&gt; yang masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Karenanya, awal dakwah Islam mendapat perlawanan yang cukup sengit, akan tetapi Allah telah berkehendak memancarkan cahaya kalimah-Nya dalam hati masyarakat &lt;span&gt;Ulao&lt;/span&gt;, sebutan untuk masyarakat Pulau Simeulue. Hingga saat ini, nama &lt;span&gt;Teungku Di Ujung&lt;/span&gt; diabadikan sebagai nama jalan lingkar Simeulue untuk mengenang jasanya dalam mendakwahkan Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pada masa selanjutnya, Buya Risman, wakil sekretaris Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PP Muhammadiyah, menuturkan bahwa pada waktu dua puluhan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; tahun yang lalu Muhammadiyah sempat ‘mengutus’ beberapa Dai ke Simeulue. Salah satunya adalah Darlim yang sekarang menjadi kepala sekolah dari salah satu sekolah Muhammadiyah dan juga tokoh masyarakat Simeuleu. Darlim, yang juga berasal dari Simeulue, kini telah berkembang menjadi Dai mandiri. Darlim adalah ‘murid’ dari Muhsin, orang yang pernah menjabat di Majelis Ulama &lt;i&gt;Ranah Minang&lt;/i&gt;. Muhsin sendiri adalah ‘murid’ dari Rustam Madjid. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada peringatan Milad 1 Abad Muhammadiyah di Simeulue, 9-10 Januari 2010, Risman Muchtar yang mewakili MTDK berkesempatan menyambangi pulau itu. Tidak hanya &lt;i&gt;seremoni&lt;/i&gt;, Milad 1 Abad itu juga menjadi sarana bersilaturahim antara anggota Muhammadiyah, Dai dan jajaran pemerintah daerah yang hadir. Juga bersilaturahim dengan guru-guru Muhammadiyah dan generasi muda Muhammadiyah, yaitu Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Saling berbagi pengalaman dan menyemangati dalam aktivitas dakwah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam kunjungan itu, pria yang akrab dipanggil Buya Risman ini mendengar ada kesan bahwa sebelumnya Simeulue kurang mendapat perhatian atau kunjungan dari mubaligh dan tokoh perjuangan Muhammadiyah. Sehingga sempat membuat aktivitas dakwah kurang bergairah. Perhatian yang kurang itu disebabkan karena daerahnya yang memang cukup terpencil, akses tranportasi yang sulit dicapai. Acara milad pun baru dapat dilaksanakan setelah sebelas tahun tidak pernah ada acara serupa. Karena itu, tidaklah salah apabila Simeulue menjadi salah satu daerah binaan yang perlu dibina oleh MTDK.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mengenai kurangnya perhatian yang ada, Buya mengatakan bahwa hal ini perlu menjadi catatan tersendiri mengenai pembinaan dari pusat dan dari wilayah yang kurang intensif. Koordinasi yang dibangun antara ranting, cabang, daerah, wilayah, apalagi dengan pusat Muhammadiyah, sebelumnya dapat dikatakan kurang terbangun secara baik. Padahal, ranting dan cabang merupakan garda terdepan yang perlu didukung di dalam mengembangkan dakwah di masyarakatnya. Namun demikian, saat ini sepertinya akan mulai terbangun jalinan yang baik. Ini bisa dilihat dengan diadakannya Milad 1 Abad Muhammadiyah yang dihadiri bukan hanya oleh pengurus pusat dan wilayah Muhammadiyah, tetapi juga oleh pemerintah daerah yang diwakili oleh Wakil Bupati yang cukup mendukung aktivitas dakwah di sana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan terselenggaranya acara itu, menjadi bukti bahwa semangat berdakwah masih cukup tinggi. Respon masyarakat sekitar pun cukup besar. Bukti lainnya adalah telah terbangunnya fasilitas sekolah baru yang dirintis oleh Muhammadiyah dari TK sampai Aliyah. Tapi memang tetap terdapat masalah soal ketersediaan sumber daya manusia. Di sana masih kekurangan tenaga guru. Karena itulah ada harapan dari pengurusnya untuk dicarikan beberapa orang tenaga yang siap berdakwah menjadi guru.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dan mereka juga mengharapkan agar warga lulusannya dapat diterima di perguruan tinggi muhammadiyah agar bisa berkuliah secara gratis sehingga dapat menjadi Dai unggul yang mampu membawa kemajuan bagi masyarakat setempat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Soal kemajuan masyarakat, masyarakat Simeulue memang masih banyak yang tertinggal. Dengan kondisi itu, Buya Risman mengatakan bahwa persoalan dakwah selain persoalan jumlah SDM Dai juga kemampuannya mendorong dan memotivasi masyarakat yang bersifat membangun. Dakwah di daerah seperti itu perlu ada kreativitas, perlu ada inovasi misalnya dalam pengembangan ekonomi di daerahnya agar ia bisa hidup juga menjadi Dai mandiri dan membawa kemajuan bagi masyarakat secara keseluruhan. Dai harus bisa melihat potensi dan peluang untuk mengembangkan masyarakat di daerahnya. Jadi, Dai juga mesti menjalankan peran sebagai fasilitator atau motivator. Perlu ada dai yang bukan hanya mampu menjawab berbagai persoalan keagaamaan secara normatif, seperti hukum, akidah, dan lainnya tetapi juga dalam masalah-masalah muamalah seperti pemecahan persoalan sosial dan ekonomi umat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Firmansyah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5435557265716702785-1386044544518147302?l=dakwah-terpencil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/feeds/1386044544518147302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/03/testing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/1386044544518147302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/1386044544518147302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2010/03/testing.html' title='&lt;center&gt;BANGKITNYA SEMANGAT DAKWAH DI SIMEULUE&lt;/center&gt;'/><author><name>MTDK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10130481584788844596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5435557265716702785.post-4151652605419243669</id><published>2009-10-29T07:47:00.000+07:00</published><updated>2010-04-23T08:50:03.670+07:00</updated><title type='text'>PP Muhammadiyah ke Pulau Kubung</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_cljQ3krlXvU/S1XNCLep9WI/AAAAAAAAACE/Ou8_PthO4Wg/s200/Buya+1.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_cljQ3krlXvU/S1XNCLep9WI/AAAAAAAAACE/Ou8_PthO4Wg/s200/Buya+1.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 150px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risman Muchtar, tak menyangka pagi Jumat (10/10) akan ke Pulau Kubung, mungkin tak terpikirpun olehnya akan bertemu dengan Ainur Raqiq, di Pulau yang hanya di huni oleh komunitas muslim dari suku laut itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Masih ingat Ainur Rafiq? pria 30-an asal Bawean ini tambah semangatnya setelah mushallah yang diharap-harapkan dapat berdiri, Mushalla ini belum diberi nama, saat buka puasa bersama tempohari, karena kesuntukan masa pak KUA Nongsa tak sempat mampir untuk meresmikannya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_cljQ3krlXvU/S1XO-iy142I/AAAAAAAAACk/uuSuxYj-qjY/s1600-h/buya+2.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_cljQ3krlXvU/S1XO-iy142I/AAAAAAAAACk/uuSuxYj-qjY/s200/buya+2.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Di dalam mushalla 6 x 8 meter beratap getah dan dinding papan yang terletak diatas permukaan laut itulah Risman Muchtar mendengarkan keluhan warga muslim pulau Kubung, yang hanya 6 keluarga itu, "Alhamdullilah sekarang dah bertambah satu keluarga lagi" kata Ainur Rapiq, sembari mengenalkan "mikail debel" yang kini telah berganti nama menjadi Nur Rahman, Nur Rahman menikahi gadis Jawa Timur yang dikenalnya di Telaga Punggur, Nurhayati demikian nama Nur Rahman pun dapat mengajar mengaji.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Di depan mushalla pulau Kubung yang belum punya nama itu terletak perigi cukup jernih airnya, meskipun hanya berjarak 5 meter dari permukaan laut. Agak ke kiri diatas bukit terletak gereja cukup besar, permanen, jadi hanya berhadap-hadapan dengan mushalla yang di bangun Rapiq dan teman-temannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_cljQ3krlXvU/S1XPP6G1VbI/AAAAAAAAACs/LrDfsAYCeHk/s1600-h/buya+3.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_cljQ3krlXvU/S1XPP6G1VbI/AAAAAAAAACs/LrDfsAYCeHk/s200/buya+3.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;"Ini bekas rumah orang" jelas Rapiq saat ditanya kenapa mushalla nya persis di depan gereja, yang lain tak ada yang dapat memberikan lahan untuk mushalla itu tadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;Risman Muchtar dari Jakarta, terangguk angguk mendengarkan keluhan warga pulau Kubung yang minoritas muslim, kedatangannya ke Batam karena Abangnya meninggal Dunia, saat bertemu di pemakaman Sungai Panas kami sempat berbincang-bincang, pak Risman begitu aku memanggilnya, dari Majelis Tablig dan Dakwah Khusus (MTDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, pria yang telah berusia 59 tahun ini masih energik naik turun pompong yang membawa kami beberapa pulau yang di huni oleh suku laut.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_cljQ3krlXvU/S1XPZuNcCQI/AAAAAAAAAC0/m82fJKubFRs/s1600-h/buya+4.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_cljQ3krlXvU/S1XPZuNcCQI/AAAAAAAAAC0/m82fJKubFRs/s200/buya+4.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Entah apa yang ada di benak pak Risman setelah melihat langsung keberadaan suku laut muslim, yang sememangnya lah mereka dulunya muslim masih tetap bertahan dalam keislamannya sampai hari ini padahal tak jauh sebelah rumah tetangga mereka lah banyak bertukar keyakinan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5435557265716702785-4151652605419243669?l=dakwah-terpencil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/feeds/4151652605419243669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2009/10/pp-muhammadiyah-ke-pulau-kubung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/4151652605419243669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5435557265716702785/posts/default/4151652605419243669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dakwah-terpencil.blogspot.com/2009/10/pp-muhammadiyah-ke-pulau-kubung.html' title='&lt;center&gt;PP Muhammadiyah ke Pulau Kubung&lt;/center&gt;'/><author><name>MTDK</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10130481584788844596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_cljQ3krlXvU/S1XNCLep9WI/AAAAAAAAACE/Ou8_PthO4Wg/s72-c/Buya+1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
